Learn and Forgive

tumblr_ngqdg4vrvY1tvjihgo1_500

Selamat malam….fake world.

Bagaimana hari kalian hari ini ?..

Aku lelah.  Tidak ada mood baik.. Seperti biasa, di jam jam seperti ini duduk di depan laptop di tempat biasa  sampai nanti menjelang pagi..

Entahlah.. tiba tiba tidak ada semangat. Sepi.. hampa. Bosan. Seperti akan kehilangan sesuatu.

Aku tahu, akan kehilangan apa.. tapi belum waktunya. Tunggu takdir.

Aku tidak tau apa yang harus ku kerjakan saat ini.. aku punya banyak rencana untuk hari esok dan seterusnya. Tapi aku tidak punya teman berbagi. Selain disini..

Tidak punya teman bercerita. Sepi..

Meski terbiasa kesepian tapi tetap saja rasanya tidak nyaman.

Di sini terdengar suara lalu lalang kendaraan, mulai dari sepeda motor, sampai sepeda mainan anak anak kecill.. ada juga suara tawa dan gurauan dari orang orang. Apa yang mereka bicara kan ?..

Seperti nya seru.

Ada juga suara pedagang makanan yang cukup berisik.. namanya juga mencari rezeki, selama halal apapun dilakukan.

Sesederhana itu mereka bahagia hingga tertawa ?..

Bukan tidak bersyukur, aku bersyukur. Terlebih bisa bernapas sampai detik ini aku bersyukur. Hanya saja sedang tidak ada semangat.. aku mencoba mengingat kembali satu per satu hal yang mugkin bisa membuat ku bersemangat, tapi belum ada juga..

Abi ku.. dia sibuk dengan keluarganya yang lain. Sejak kemarin sampai sekarang..

Umi ku.. sibuk di depan sama teman teman nya. Bercanda..

Syukurlah.. Umi bisa tertawa.

Lalu aku.. Cuma meratapi 1 hari yang ku lalui hari ini.. Padahal ini belum terlalu panjang. Bagaimana dengan nanti..menjelang tengah malam sampai hamper subuh.. apa akan tetap seperti ini ?..

Mungkin di luar sana ada yang sedang family time.. tapi mungkin juga ada yang sedang berduka. Aku harus bersyukur kan ? iya aku tau..kalian pasti akan bilang supaya aku bersyukur.

Bagaimana aku harus menjelaskan perasaan ku saat ini ?

Bagaimana aku menjelaskan bahwa aku tidak lupa bersyukur ?.. apa setiap kali bersyukur harus dikatakan ?..

Hari ini banyak sekali yang membuatku iri. Ketika aku membuka beranda salah satu akun media social ku, banyak sekali yang sedang berbahagia. Meski dibalik kebahagiaan itu tetap ada permasalahan, tapi aku ada sedikit tidak suka.. Dalam hati ku bertanya kenapa aku tidak seperti mereka yang sedang berbahagia itu ?..

Ada perasaan cemburu melihat mereka yang sedang berbahagia dengan orang orang yang dikasihi dan mengasihinya.. ada sepasang suami istri yang mesra, dan itu membuat ku berandai-andai tentang orang tua ku..

Ada Ibu-Ibu yang menceritakan tentang tumbuh kembag buah hati nya dengan bangga sekali.. sepertinya bahagia. Mungkin seperti itu juga yang dirasakan Umi ku..

Ada juga yang menceritakan tentang liburan mereka di tanggal merah hari ini. Aku cemburu.. aku sudah jarang ada waktu untuk Liburan Keluarga.

Ada juga yang menceritakan tentang bahagia nya kehidupan rumah tangga mereka.. lagi lagi aku cemburu.

Apa yang kurang dari keluarga ku ini ?..jika memang banyak kekurangan, harus darimana memperbaikinya, Tuhan ?

Diantara mereka semua tidak ada yang seperti ku. Mungkin aku yang paling buruk diantara mereka. Karna tidak membagikan kisah yang bahagia..

Aku hanya menulis. Aku hanya mengungkapkan apa yang ada dalam pikiran ku.. aku hanya berusaha membuat perasaan ku lega. Terlepas dari benar atau salah cara yang ku lakukan ini..

Semalam lagi lagi airmata itu menetes..

Bukan sekedar menetes, tapi sukses mengalir dengan deras nya seperti air Hujan.

Simple sekali permasalahan nya.. karna tiba-tiba Umi mengetuk pintu kamar ku. Umi bilang kalau remote tv nya rusak, umi minta tidur dikamar ku katanya.. Tapi aku menolak. Sebenarnya merasa bersalah, merasa berdosa.. tapi aku tidak bisa mengendalikan diri ku. Aku bilang ke umi besok besok saja umi. Aku sedang ingin sendiri..

Perasaan bersalah itu membawa ku pada ingatan semasa aku kecil..

Abi, Umi..anak mu seperti ini bukan tanpa alasan. Bukan karna anak mu ini sangat tidak tau diri sebagai seorang anak. Jangan menilai ku seperti itu..

Dulu.. sewaktu aku masih kecil, aku takut petir ketika hujan deras datang. Aku minta tidur bersama kalian. Tapi mati matian kalian meminta ku pergi dari kamar kalian.. karna alasan nya yang ku takuti Cuma petir. Mungkin memang Cuma petir, tapi aku yang masih kecil itu takut..Kalian membiarkan ku menangis diluar sampai aku kembali ke kamar ku sendiri.

Itu yang membuat ku sekarang terbiasa untuk sendiri.  Bahkan sekalipun jika ada petir yang cukup menakutkan suaranya, aku tetap nyaman dikamar ku sendiri. Sekarang lebih baik merasakan takut sendiri dikamar, disbanding takut karna harus di usir seperti dulu aku masih kecil..

Abi.. mungkin Abi lupa, atau mungkin ini tidak penting dan tidak perlu di ingat sama Abi.. Dari dulu aku cemburu sama teman teman ku yang ada kesempatan untuk belajar dengan Ayah nya. Entah apa alasan Abi sampai Abi seperti itu. Apa karna Abi merasa Abi orang mampu waktu itu ? Sehingga menyerahkan segala urusan ku ke asisten rumah tangga dan karyawan karyawan abi ?

Aku paham jika alasan nya Abi Umi merasa tidak mampu mengajari ku, karna Abi Umi hanya lulusan SMP. Tapi apa harus seperti itu ?..

Aku tidak apapa kalau memang harus belajar dengan berbagai guru, ikut bimbingan belajar, dll. Tapi aku tidak pernah paham mengapa aku tidak punya kesempatan belajar ditemani Abi Umi ?

Kita melewatkan banyak moment moment berharga yang seharusnya bisa kita lakukan, sebagai Anak-Ayah. Sebagai Keluarga yang Utuh.. Aku masih menggap keluarga ini utuh, meski harus berbagi.

Abi pernah tau bagaimana kecewa nya aku ketika Abi meminta ku untuk mengaku sebagai anak perempuan lain itu ? Hanya karna ingin terlihat..sempurna.

Aku terlahir seperti ini, dengan kelebihan dan kekurangan ku, tetap lah aku anak nya Umi. Bukan anak perempuan lain yang mungkin lebih sempurna disbanding Umi ku.

Jika seperti ini, terkadang tidak tau harus bagaimana mengendalikan perasaan ini. Takdir tidak pernah berubah, tapi apa perasaan juga tidak akan berubah ?

Terkadang aku sendiri takut. Aku takut tidak bisa memaafkan semua yang sudah terjadi.. Aku takut hidup dalam kebencian. Aku takut jika terus menerus seperti ini semua semakin kacau. Aku belum siap jika harus hidup tanpa Umi..

Mungkin kalian mau mengatakan Tuhan saja maha Pengampun.

Iya, Aku percaya Tuhan maha Pengampun. Sebesar apapun dosa kita..Tapi aku bukan Tuhan.

Aku masih perlu belajar banyak hal..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s